Bambang Haryo Usahakan Solar Subsidi Bagi Nelayan Lebih Mudah Dan Ditambah Kuotanya


Bambang Haryo Usahakan Solar Subsidi Bagi Nelayan Lebih Mudah Dan Ditambah Kuotanya

Reporter : N. Suhendra



Redaksi Jatim, Sidoarjo – Pemikiran Dewan Pakar Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS) yang menyoal aturan baru bagi nelayan dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang harus menggunakan aplikasi untuk membeli solar bersubsidi bisa lebih dimudahkan.

Bambang Haryo meminta agar kebijakan yang dikeluarkan pemerintah disesuaikan dengan kriteria penerima manfaat. Banyak para nelayan mengeluhkan pembelian solar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang harus menggunakan aplikasi/ barcode.

Apalagi, sebagian para nelayan masih alami buta huruf, hingga tak memiliki gawai untuk mengakses aplikasi. “Dengan pembelian solar subsidi menggunakan barcode seperti ini dapat memiliki dampak pada nelayan dan mata pencaharian mereka,” terang Bambang saat akan membeli kerang di Bluru kidul, Sidoarjo Kamis (23/11/2023).



Ia menekankan pentingnya pemerintah memahami kriteria penerima manfaat sebelum menerapkan kebijakan. Meski di era saat ini BHS menyebut masih banyak juga masyarakat yang belum terbiasa dengan penggunaan teknologi seperti bagi para nelayan yang tinggal di daerah pesisir.

Menurutnya kebijakan yang kurang efektif diterapkan dapat menghambat penyerapan subsidi solar bagi para nelayan. “Dan problem berikutnya terkait kuota solar subsidi yang seharusnya 60 liter perhari dikurangi menjadi 20 liter perhari,”



Sugiono salah satu nelayan pencari kerang asal Blurukidul Sidoarjo membenarkan Selain harus melalui aplikasi, jatah solar yang didapatkan oleh para nelayan juga dibatasi dan dirasa tidak cukup. “Sekarang membelinya harus pakai barcode,” terangnya.

Dampak dari pembatasan itu membuat para nelayan tidak berani melaut setiap hari karena tidak punya jatah solar yang cukup untuk menangkap ikan maupun mencari kerang sampai tujuan yang dituju.

“Dari jatah pembatasan itu, seminggu, paling hanya dua kali saya mengisi mesin motor perahu untuk pergi ke laut,” akunya.

Kini para nelayan yang ada, hanya melaut ke areal yang cukup dekat dan harus memperkirakan solar apakah mencukupi atau tidak. “Kalau melaut, tidak berani jauh-jauh. Kalau terlalu jauh takut solar tidak cukup,” keluhnya. (isa)

Posted in News

Berita Terkait

Top