THORIQOH YANBU’A SEBAGAI KURIKULUM MERDEKA DI LEMBAGA PENDIDIKAN AL-QUR’AN


THORIQOH YANBU’A SEBAGAI KURIKULUM MERDEKA DI LEMBAGA
PENDIDIKAN AL-QUR’AN

Oleh : Ummi Maghfirotin Nafiah 

Prodi S1 Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan Universtas Negeri Surabaya

Email: ummi.23153@mhs.unesa.ac.id



Redaksi Jatim, Surabaya (14 Desember 2023) –
Abstrak :
Kurikulum Yanbu’a menjadikan Lembaga Pendidikan Alquran semakin maju dan berkembang.
Karena dalam kurikulum ini pembelajaran lebih efektif, lebih efisien, lebih praktis, dan lebih
produktif. Karena proses pembelajarannya sangat terstruktur dan terorganisir dengan baik.
Dalam thoriqoh, ini proses kegiatan belajar Mengajar (KBM) menggunakan jilid atau kitab
sebagai panduan materi yang akan dikaji oleh anak didik (para santri). Sama halnya dengan
RPP (rancana pelaksanaan pembelajaran) yang telah disediakan dalam konsep kurikulum
Merdeka. Thoriqoh Yanbu’a juga memiliki wadah dalam pengembangan minat dan bakat para
santri. Thoriqoh Yanbu’a mencakup bermacam-macam tata cara dalam pembelajaran membaca
Al-Qur’an dan cara menghafalkan Al-Qur’an. Dalam thoriqoh ini, selain belajar Al-Qur’an dan
menghafal Al-Qur’an, muatan lokal yang diterapkan adalah buku jilid yang berjudul “Materi
hafalan”. Materi hafalan ini berisi doa-doa harian, doa-doa sholat, dan hadits-hadits pendek,
yang mana, sebagai implementasi dari materi ini adalah praktek sholat dan praktek wudhu.
Karena wudlu adalah hal utama yang menjadikan sahnya sholat. Dan sholat adalah inti ibadah.
Evaluasi yang diterapkan dalam TPQ Ar-Rohmat menggunakan evaluasi formatif dan sumatif.
Evaluasi formatif dilakukan setiap pertengahan jilid dan setiap akhir jilid. Evaluasi kedua yaitu
Evaluasi sumatif. Evaluasi ini dilakukan diakhir materi. Yaitu dilakukan setelah materi selesai
disemua jilid dan khatam Al-Qur’an binnadzor. Adapun materi yang ditempuh hingga tes
sumatif adalah mulai jilid pemula sampai Al-Qur’an dibarengi dengan jilid 6 dan 7. Dan
dilengkapi dengan jilid “Materi hafalan”. Konsep kurikulum Merdeka dengan konsep
kurikulum Thoriqoh Yanbu’a memiliki korelasi yang sangat dominan. Sehingga kurikulum
Thoriqoh Yanbu’a memiliki tujuan yang sama dengan kurikulum Merdeka yaitu memudahkan
dalam prose pembelajaran, memberikan kebebasan anak didik dalam mengeksplorasikan minat dan bakat agar selalu berinovasi sehingga sumber daya manusia (SDM) Indonesia memiliki
integritas, kecerdasan dan keterampilan yang unggul serta berjiwa Qurani dan berakhlaqul
karimah.

PENDAHULUAN :
Taman Pendidikan Al-Qur’an merupakan sebuah Lembaga pendidikan nonformal
keagamaan yang bertujuan untuk memberikan pembelajaran mengenai Al-Qur’an.
Pembelajaran Al-Qur’an ini meliputi cara membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, dan
belajar ilmu tajwid, makhorijul huruf serta fashohah. Pada umumnya, anak-anak yang masuk di Lembaga TPQ adalah mulai dari usia PAUD hingga usia SMP, namun alangkah lebih
baiknya, Pendidikan Al-Qur’an hendaknya ditanamakan sedini mungkin, yaitu pra-PAUD.

Di dalam Lembaga TPQ selain dibekali akan ilmu Al-Qur’an, santri juga dibekali dasar-dasar ilmu agama, seperti praktek sholat dan Pendidikan Akhlakul Karimah. Peran Pendidikan Al-Qur’an sebagai Pendidikan nonformal sangat penting untuk membantu mngembangkan potensi anak baik dari segi sikap, pengetahuan, maupun pengalaman keagamaan yang didasarkan pada
ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Banyak thoriqoh yang sering digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an, salah satunya
yaitu thoriqoh Yanbu’a. Didalam Thoriqoh Yanbu’a, kurikulum yang dipakai bisa dikatakan
kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran
intrakurikuler dengan konten yang beragam agar siswa dapat lebih optimal dan memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Dimana anak didik (para santri) dituntut untuk lebih Fokus pada materi namun beragam konsep cara belajar, dan dilakukan secara interaktif. Sehingga pembelajaran lebih mendalam, dan waktu yang sangat cukup untuk
pengembangan kompetensi dan karakter.

PEMBAHASAN :
a. Sejarah berdirinya Yanbu’a
Thoriqoh Yanbu’a merupakan thoriqoh baca tulis hafal Al-Qur’an yang pusatnya
terletak di Kudus Jawa Tengah. Thoriqoh Yanbu’a didirikan oleh KH. Arwani Amin
(Ayahanda), KH. Muhammad Arwani Ulin Nuha (putra pertama), KH. Ulil Albab Arwani
(putra kedua), dan KH. M. Manshur Maskan (putra angkat). KH. Arwani Amin adalah pendiri
pondok pesantren Yanbu’ul Al-Qur’an Kudus. Pondok pesantren Yanbu’ul Al-Qur’an ini
merupakan pondok tahfidz yang sistemnya adalah mengahafal Al-Qur’an.
Thoriqoh Yanbu’a memiliki kitab yang digunakan dalam proses pembelajarannya. Tujuan dari
dibentuknya thoriqoh Yanbu’a ini agar pembelajaran Al-Qur’an dapat dilaksanakan secara
efektif dan sistematis, dan juga dapat membimbing para santri dalam membaca maupun
menghafal Al-Qur’an secara tartil dan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, memperhatikan
makhorijul huruf dan dapat memahami bacaan Ghorib (bacaan nyleneh) dalam Al-Qur’an.
Berdirinya thoriqoh Yanbu’a bersal dari usulan alumni pondok Tahfidz Yanbu’ul Al-Qur’an
dan juga banyak sekali usulan dari masyarakat luas juga dari Lembaga Pendidikan Ma’arif
serta muslimat terutama dari cabang Kudus dan Jepara. Dalam rangka menjalin silaturrahmi
maka dengan tawakkal dan memohon Ridho Allah SWT, akhirnya terbitlah kitab Yanbu’a yang
disusun oleh tiga tokoh pengasuh pondok pesantren Tahfidz Yanbu’ul Al-Qur’an Kudus, yaitu
KH. Agus M. Ulin Nuha Arwani, KH. Ulil Albab Arwani dan KH. Mansur Maskan (Alm).
b. Konsep pembelajaran thoriqoh Yanbu’a
Kurikulum didalam Thoriqoh Yanbu’a memiliki hubungan atau korelasi konsep dengan
kurikulum Merdeka, dimana konsep kurikulum Merdeka mengacu pada konsep humanistic
yang menekankan pada kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab peserta didik serta lebih
melihat sisi perkembangan kepribadian anak didik dan juga pada potensi yang dimiliki. Para
dewan asatidz sebelum terjun menjadi pembimbing, diwajibkan mengikuti pelatihan hingga
selesai pembinaan untuk mematangkan pengetahuan akan ilmu Al-Qur’annya, membenarkan
bacaan yang masih dirasa kurang sesuai dengan kaidah, membekali dasar-dasar ilmu
keagamaan dan juga menyambung silaturrahmi sesama saudara Yanbu’a. Wadah yang
digunakan untuk mewadahi pelatihan para asatidz yaitu MIQ (Mudarosah Idarotil Quran). MIQ
menjadi kegiatan rutinan, dimana para dewan asatidz di gembleng akan kematangan ilmu
Alqurannya.

Thoriqoh Yanbu’a merupakan thoriqoh yang mudah untuk dipahami, terstruktur dan
lebih fleksibel, jadi proses pembelajarannya menggunakan kitab yang sudah ditentukan sesuai
tahap pembelajarannya. Ada 8 kitab yang digunakan dalam proses pembelajaran. Untuk jilid
1-5 berisikan materi basic (dasar), untuk jilid 6 berisi materi Ghorib (bacaan nyleneh) jilid 7
dan 8 berisikan materi tajwid dan hafalan. Materi hafalan meliputi hadits-hadits pilihan, doa-
doa harian dan surah Alfatihah sampai Ad Dhuha. Disinilah yang menjadi korelasi antara
kurikulum thoriqoh Yanbu’a dengan kurikulum Merdeka. Tidak ada penekanan dalam proses
pembelajaran, dan materi yang disajikan juga disesuaikan dengan kemampuan santri.
Berikut isi kegiatan dalam pembelajaran thoriqoh Yanbu’a:
1. Sebelum memulai pembelajaran semua santri melakukan doa bersama yang diawali
dengan Tawashul dilanjut membaca surah Alfatihah, doa wajib dan terakhir
melantunkan sholawat Al-Qur’anuna.
2. Membaca jilid Meteri hafalan 1 Juz yang meliputi: Surah-surah pendek, membaca
beberapa hadits, bacaan sholat dan juga beberapa doa sehari-hari.
3. Kemudian seluruh santri masuk ke kelas nya masing-masing, pembelajaran klasikal
dimulai. Klasikal, baca Simak, kemudian sorogan masing-masing anak, atau
kelompok sesuai kemampuan anak dan diakhiir dengan do’a
Dalam thoriqoh Yanbu’a menggunakan system sorogan sebagai jalannya proses
pembelajaran dimana para santri maju satu persatu secara bergiliran untuk
membaca kitab didepan pendidik. Jika bacaannya belum lancar maka sebagai
pembimbing tidak menaikkan ke halaman berikutnya. Tetapi pembimbing
memberikan dukungan dan motivasi lebih kepada santri tersebut agar dapat terus
mengikuti materi selanjutnya dan dapat selalu mengulang ketika dirumah. Sorogan
bisa dilakukan berdasarkan kelompok. Karena kemampuan setiap anak pasti
berbeda, jadi jika dilakukan satu persatu maka akan memakan banyak waktu.
Untuk para santri yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an, dan menyelesaikan 8 juz jilid
dengan kualitas yang baik, maka mereka akan masuk ke tahap proses persiapan Imtihan.

Imtihan yaitu proses sakral yang dilakukan kepada para santri yang sudah tuntas menyelesaikan
tahap-tahap pembelajaran dan Di dalam proses Imtihan para santri akan di uji oleh penguji dari
koordinator kecamatan untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar telah menyelesaikan
tahap-tahap pembelajaran secara Mumtaz.
c. Muatan lokal
1. Praktek wudhu
Di dalam materi praktek wudhu, semua santri santri wajib mengkuti praktek
tersebut, karena wudlu merupakan inti dari sahnya ibadah, yang mana santri harus
dibekali bagaimana tata cara wudhu yang baik dan benar, dan sesuai dengan kaidah
Fiqih. Proses dalam praktek wudhu ini, para santri melakukannya dengan praktek
langsung yang didampingi oleh pembimbing.
2. Praktek sholat
Untuk materi praktek sholat, semua santri wajib mengikutinya. Dengan
ketentuan praktek dilakukan secara berkelompok (sesuai kelas). Adapun
konsengrasi praktek sholat tersebut adalah lafazd doa-doa dan Gerakan sholat.
Jadi praktek wudhu dan praktek sholat tersebut diintegrasikan ke dalam materi
hafalan.
d. Evaluasi
Evaluasi formatif dilakukan pada tahap pertengahan jilid yang telah dikaji
santri. Evaluasi formatif ini dilakukan ketika santri telah berada dihalaman pertengahan
atau dinamakan “Tashih A” tashih tersebut di laksanakan oleh dewan pentashih. Untuk
menentukan apakah santri tersebut bisa melanjutkan ke halaman selanjutnya atau masih
perlu mengulang kembali dihalaman yang sama.
Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan ketika semua jilid telah selesai dengan
ketentuan hafal, dan telah mengkhatamkan Al-Qur’an binnadzor yang sudah sesuai
fashohah, makhorijul huruf, serta tajwid telah dikuasai. Begitupun dengan evaluasi
pada pendidikan formal yang menerapkan kurikulum Merdeka, Pada Pendidikan formal
evaluasi formatif dinamakan UTS (ulangan tengah semester), sedangkan evaluasi
sumatif dinamakan UAS (ujian kenaikan kelas). Untuk penilaian dilakukan secara
kualitatif, yang mana tidak hanya menekan kan pada materi utama saja melainkan juga
mengembangkan bakat dan minat para santri agar bisa dieksplorasikan yang diwadahi
oleh kegiatan ekstrakurikuler.
e. Tahfidz
Pada tahap tahfidz dilakukan setelah santri selesai mengikuti Imtihanniha’I dan
dinyatakan lulus. Kemudian mengikuti Proses Khotmil Qur’an dan wisuda. Jadi tahap
tahfidz ini merupakan tahap yang paling akhir dari pembelajaran binnadzor. Kemudian
dilanjutkan pembelajaran hafalan Al-Qur’an dimulai dari juz 30. System dalam tahap
tahfidz ini, dibimbing oleh pembimbing khusus yang sudah mahir. System yang
digunnakan yakni baca Simak dan klasikal.



KESIMPULAN :
Penggunaan thoriqoh Yanbu’a dalam pembelajaran Al-Qur’an sangatlah efektif dan
efisien. Karena thoriqoh Yanbu’a memiliki proses pembelajaran yang terstruktur. Serta sudah
disediakan kitab atau jilid yang menjadi panduan dalam kegiatan belajar mengajar. Kurikulum
thoriqoh Yanbu’a juga sebenarnya hampir sama dengan kurikulum Merdeka, dimana para
pendidik tidak perlu lagi menyibukkan dengan membuat RPP secara rinci, namun hanya
membutuhkan satu lembar RPP saja, tetapi harus memenuhi kriteria minimal yang sudah
ditentukan dalam jalannya proses pembelajaran. Dengan adanya thoriqoh Yanbu’a juga
memudahkan para santri dalam melaksanakan proses pembelajaran Al-Qur’an.Dalam
pengimplementasi thoriqoh Yanbu’a juga membutuhkan dukungan untuk memudahkan
jalannya proses pembelaran. Adanya motivasi dan dan kepedulian serta perhatian dari
pembimbing dan dari keluarga yang berperan penting dalam proses pembelajaran Alquran.
Serta didalam metode Yanbu’a juga memiliki agenda yang terstruktur, karena kurikulum yang
digunakan sama dengan kurikulum Merdeka.
Matari pembelajaran Al-Qur’an tetap menjadi materi utama, dan juga memiliki dan
menyediakan wadah bagi para santrinya untuk menampung serta mengembangkan para minat
dan bakat santri. Kemahiran anak didi dalam membaca Al-Qur’an, menghafal surat pendek,
menghafal bacaan-bacaan sholat, dan sebaginya dapat dibuktikan secara nyata dalam Imtihan.
Imtihan merupakan proses sacral yang dimana para santri diwisuda setelah menuntaskan
bacaan Al-Qur’annya secara baik dan benar, dan di Imtihan pula seluruh wisudawan di uji oleh
penguji akan materi yang sudah didapatkannya.
Lembaga Pendidikan Al-Qur’an merupakan sebuah tempat yang secara tidak langsung
dapat membentuk penerus generasi bangsa yang berjiwa Al-Qur’ani, memiliki dasar ilmu
kegamaan serta memiliki kepribadian yang berakhlaqul karimah, yang nantinya kan menjadi
bekal bagi mereka Ketika sudah bermasyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Mas’udah, Skripsi: Upaya Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al Qur’an Melalui Thoriqoh
Index Card Match di RA Muslimat NU Angin-Angin Bungo Wedung Demak.
Semarang:Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2011
Nuryamin, N. (2011). HAKIKAT EVALUASI: Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Lentera
Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 14(2), 202–218.
https://doi.org/10.24252/lp.2011v14n2
“Penerapan Thoriqoh Yanbu’a dalam Pembelajaran Al-Qur’an di TPQ Al-Madaniyah desa Ketenger
kecamatan Baturraden kabupaten Banyumas” (PDF). Repository IAIN Purwokerto. 2017. Diarsipkan
dari versi asli (PDF) tanggal 2021-04-20. Diakses tanggal 2021-04-20.
Lompat ke:a b “YANBU’A | Pesantren Virtual” (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-24.
Fatimatuzzahroh, Fika (2015). “Aplikasi Thoriqoh Yanbu’a dalam Meningkatkan Kefasihan dan Kelancaran
Baca Siswa Kelas VII A pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadist di MTs Al-Hidayah Donowarih kabupaten
Malang” (PDF). e-theses UIN Malang.(ummi)

 

Berita Terkait

Top